Jantung Budi Darmawan berdegum lebih cepat.Perasaan was-was tengah hinggap dalam hati dan pikirannya. Ia seperti menaiki roller coaster. Bagaimana tidak, angka puluhan juta harus disiapkan agar Dudi, Putra sulungnya bisa masuk ke sekolah lanjutan tingkat pertama.
Meskipun sebelumnya ia memahami bahwa biaya pendidikan semakin melangit, tapi ia tak menyangka bahwa untuk masuk SLTP favorit putra sulungnya, karyawan di sebuah rumah produksi ini harus merogoh kocek





